Nyasar di Pulau Tidung

Malam itu akhirnya aku dan sahabatku memutuskan untuk mengisi weekend ke Pulau Tidung yang merupakan salahsatu gugus di Kepulauan Seribu. Yang beberapa tahun ini menjadi salah satu spot yang eksis di dunia travelling. Dengan keadaan yang serba mendadak, kami pun meluncur menuju Pulau Tidung dengan berbekal informasi seadanya yang kami dapatkan di Google tanpa pemandu wisata dan biro perjalanan, karena diantara kami belum pernah sebelumnya menginjak Pulau Tidung. Dapat disebut perjalanan wisataa ini ‘backpacker-an.

Sabtu, Pukul 06.00 kami memulai perjalanan dari Karawang menggunakan mobil sewa yang hanya mengantar sampai Muara Angke. Selama perjalanan menuju Muara Angke tidak menemui kemacetan. Sekitar Pukul 08.30 tibalah kami di Muara Angke, dan tanpa basa basi kami langsung menaiki kapal yang akan membawa kami ke Pulau Tidung, karena  Kapal tersebut akan berangkat saat itu juga dan belum tentu akan ada lagi Kapal yang akan membawa kami menuju Pulau Tidung. Kapal yang kami tumpangi adalah Kapal nelayan yang cukup besar, tetapi bukanlah kapal bagus dan mewah. Beralaskan tikar tanpa sandaran dan dimanapun kita bisa duduk tanpa nomor seat. Hanya membayar Rp 35.000 saja sampai di Pulau Tidung.

3 jam kemudian atau sekitar pukul 12.00-an tibalah kami di Pulau Tidung. Pada saat itu cuaca cukup panas dan terik, sehingga kami kegerahan dan keringat mengucur. Karena tanpa biro perjalanan, saat tiba disana yang pertama kami lakukan adalah mencari penginapan sambil meneguk segelas air di warteg yang tak jauh dari pelabuhan. Setelah bertanya-tanya akhirnya kami mendapatkan tempat penginapan yang menurut kami cukup untuk 7 orang dan cukup dengan kocek yang ada, Rp 250.000 untuk satu malam, berada di Tidung Barat. Disini tidak ada hotel, warga disini menyewakan rumah-rumah mereka untuk para wisatawan,

Pulau Tidung Tidak terlalu besar, dengan menyewa sepeda Rp 15.000 selama 1 hari sudah dapat mengelilingi Pulau Tidung, atau dengan menggunakan Bentor (Becak Motor). Disini terdapat sekolah (SD, SMP, SMA), Kantor Kecamatan, Puskesmas,Kantor Polisi. Sebagian besar mata pencaharian mereka adalah nelayan dan segala yang berhubungan dengan pariwisata. Hanya disini tidak ada hotel,mall, dan restoran.

Setelah mendapatkan Penginapan, kami pun memutuskan untuk snorkling. Karena kami tidak menggunakan biro perjalanan, maka kami harus mencari sendiri penyewaan perahu dan alat snorkling, dengan bantuan pemilik penginapan akhirnya kami mendapatkannya. Untuk sewa perahu harus membayar Rp 300.000 dan sewa alat snorkling Rp 35.000 per orang. Mulailah kami menuju tengah laut sebelah Barat dan nyebur. Subhanallah indahnya di didalam laut.  Karang-kSnorkeling di Tidungarang serta ikan-ikan yang warna warni membuat aku tidak mau mengedipkan mata. Yang perlu diperhatikan ketika snorkeling adalah kaki katak harus selalu digunakan, karena dapat melindungi kaki kita dari tajamnya karang. Sangat disayangkan, keindahan itu sedikit tercemar oleh oli-oli dari limbah Perusahaan minyak, dan oli tersebut menempel di baju serta meninggalkan bekas.

Malam pun tiba, kami memutuskan menuju Jemabatan cinta untuk menikmati indahnya malam di tempat yang katanya paling romantis’ dan paling terkenal dari Pulau Tidung. Tanpa memperhitungkan jarak, akhirnya kami menggoes sepeda kami menuju jembatan cinta, yang ternyata jarak antara penginapan dan jembatan cinta cukup jauh sekitar 5km. Dengan ngos-ngosan akhirnya kami sampai di jembatan cinta, tapi loh ko sepi yah, hanya ada segelintir pemancing yang berada di jembatan penghubung Tidung Besar dengan Tidung Kecil. Karena ingin menikmati malam itu, kami pun berfoto-foto, sampai akhirnya waktu menunjukan pukul 9.30 malam,dan tiba-tiba lampu mati, di Pulau Tidung terjadi mati lampu karena Gardu terbakar. Sampai Pukul 11.00 kami menunngu dengan harapan lampu akan menyala, tetapi belum juga, dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali menuju penginapan dengan bekal lampu handphone. Disinilah pengalaman yang tidak akan terlupakan, karena saat itu jalanan gelap gulita dan kami pun tidak ingat arah menuju penginapan, nyasar jadinya, karena sudah larut malam , tidak ada orang tempat bertanya. hehee.. lucu kalo inget ini. Muter-muter disitu dan ngerinya pas gelap banget. Sampai akhirnya kami bertemu Bapak-bapak dan akhirnya mengarahkan kami. Pentingnya mengingat jalan di Pulau Tidung karena di setiap gang tidak ada nama jalan dan tipe jalan nya itu seperti sama.

ConoeKeesokan harinya kami menghabiskan waktu untuk bermain permainan air di dekat jembatan cinta. Karena pegal-pegal sisa semalam goes 10km ditambah nyasar, akhirnya perjalanan menuju Pantai Timur menggunakan Bentor. dari Penginapan menuju Pantai timur cukup membayar Rp 15.000 untuk 2 orang. Pagi itu kami habiskan untuk bermain Dounat boat dan Banana Boat, 1 permainan air cukup Rp 25.000 saja per orang, cukup murah dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya, dan sisanya kami habiskan untuk berjalan menuju Tidung kecil. Dan pada akhirnya kami pun meninggalkan Pulau Tidung sekitar pukul 13.00 siang dengan menggunakan perahu nelayan seperti ketika berangkat.

love bridgePulau Tidung tempat yang asik dan recomended, cukup untuk menghilangkan kepenatan atas aktivitas sehari-hari, dengan kocek yang tidak terlalu mahal dan jarak yang tidak terlalu jauh, kita dapat menikmati indahnya pantai dan isi laut dan yang paling penting adalah dapat merefresh.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s