Antara kebohongan dan kebenaran…

Waktu itu adzan magrib berkumandang, Hujan rintik-rintik tidak begitu deras mengantarkan sore ke malam yang gelap, jendela dan gorden rumah ditutup, lampu-lampu menerangi semua sudut gelap ruang dunia ini. Transisi warna langit beserta pergerakan awan terpandang dengan jelas. Kegagahan mentari disiang hari sirna digantikan kemilaunya bintang dan hangatnya bulan. Lalulintas manusia lenyap dan hilang.

Aku menoleh ke arah suara itu, ternyata ada percakapan antara ibuku dengan soerang nenek-nenek tua yang tidak ku kenal. Nenek tua itu berbahasa sunda, tapi aku tidak menyimak perkataannya, karena jarak membuat suaranya tidak jelas. Tiba-tiba ibuku menghampiri, “Tolong ajak bicara nenek itu”, sementara ibuku berjalan ke arah kamarnya.

Saat itu aku mulai berbicara dengan nenek tua itu. Aku tanya domisilinya, dia bilang kalo dia hidup sebatang kara, dia tinggal di kampung dekat pasar Ujung Berung, yang jarak dari rumahku cukup jauh sekali, sekitark 2 km. Dalam hati aku hanya bergumam, Ya ampun… seorang wanita yang sudah tua, sebatangkara, jalannya pun sudah bongkok, harus jauh2 menempuh jarak yang cukup jauh, malem2, untuk apa?. Terlintas teringat nenekku yang aku panggil “emak”. Apa anaknya, saudaranya, atau tetangganya tidakkah memberikan pertolongan. Teganya.

Disela2 itu ayahku menghampirinya. Ayahku tak berucap. Nenek itu yang memulai percakapan. Percakapan yang bermaksud memuji dan menyanjung ayahku. Disebut rupawan, bijaksana, gagah. Ayahku hanya senyum tak berucap.

Disaat itu ibuku datang dari kamarnya. ” Bu.. ini saya kasih uang, tapi mungkin hanya cukup untuk makan ibu aja, kebetulan saya juga ada banyak keperluan, diterima tidak?”. Aku lihat ibuku memberi 20ribu. Raut muka nenek itu terlihat menurun. Aku simpulkan dia tidak puas dengan apa yang diberikan ibuku. Sepertinya ibuku membaca raut muka wanita tua itu. ” Aduh neng, ya udah 200ribu aja.. ada tidak?”. Ibuku tersenyum. “Kalo memberi itu kan yang penting ikhlas bu…”. Sepertinya nenek itu kecewa, dia diam seribu basa. Pujian dan sanjungan yang sebelumnya dilontarkan dengan berkoar-koar tiba-tiba sirna dan berubah menjadi raut muka yang kecewa.

Kekecewaan tiu mengantar nenek itu pulang. Entah kemana. Padahal aku ingin sekali mengikuti beliau, mencari kebenaran atas semua yang terjadi dengan nenek tua itu. Aku takut kalau ternyata nenek setua itu hanya dijadikan objek dan korban oleh orang-orang yang berhati busuk. Tapi malam begitu larut. Hujan belum juga berhenti.

Aku curious dengan percakapan antara ibuku dan nenek tua tadi.  Ibuku bilang tidak mengenal nenek itu samasekali, dia bercerita dia butuh uang untuk operainya senilai 500ribu.  Tapi entah kenapa ibuku kurang yakin atas semua ceritanya. Bahkan domisilinya tidak jelas.

Saat tubuhku kubaringkan di tempat tidur aku berdoa Ya Allah seandainya nenek tua tadi benar semua perkataannya, semua ucapannya, semua kesulitannya, semua kenyataannya yang ada, tolong mudahkan jalannya, tapi seandainya semua itu hanya mengelabui, menipu, dan membohongi, sadarkanlah dan arahkan ke jalan yang benar. Dan maafkan jika tindakan kami salah.

2 comments

  1. Saya yakin, perasaan ibu Wie pasti tajam saat berkomunikasi dengan si nenek tadi, nyatanya : Ibuku tersenyum. “Kalo memberi itu kan yang penting ikhlas bu…”.
    Jika si nenek tadi menerima dengan ikhlas uang 20 rb tadi, pasti akan sangat berkah baginya.
    Bagi kita yang memberi, berpikiran positif saja. Kalaupun nenek tadi bohong, biar berurusan dengan Tuhan dan hati nuraninya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s